Atasan saya berusia sekitaran 46 th.. Dimuka pertemuan dengan saya, saya memperoleh kesan ia seseorang yang ramah serta murah hati. Senyumnya yang bersahabat serta dahinya yang lebar semakin berikan kesan ia seseorang yang bijaksana. Tetapi demikian sebulan bekerja, saya mulai kerap di panggil menghadap di ruangan kerjanya. Disana, saya senantiasa dimarahi. Saya bahkan juga ingat kata-katanya, “Kalau tak ada yang butuh saya geramkan, pasti anda akan tidak saya panggil kesini. ” Senantiasa saja ada masalah yang membuatnya geram. Kemarahan sudah menghanguskan citranya sebagai seseorang pemimpin yang bijaksana. Baginya, kemarahan itu seperti seseorang kehausan yang meminum air laut, semakin diminum semakin haus. Sekali geram, bakal muncul lagi geram yang lebih dahsyat lagi.
Sejujurnya, saya tidak paham persis apa yang dia geramkan. Rasa-rasanya, apa yang saya lakukan telah baik, telah pas dengan teori yang saya tekuni di bangku kuliah. Saya bingung, saya seperti lalat yang terjebak di jendela kaca yang telah berjuang mati-matian, serta lalu terjatuh kelelahan.
Nyatanya saya tak sendirian. Saya temui seseorang rekanan yang juga akademi, tetapi kuliahnya cuma satu 1/2 th.. Ia lagi termenung. Dihelanya nafas panjang seakan menginginkan nafas itu dapat menyapu kepedihan yang merayapi relung hatinya. Ya, ia begitu sedih. Senyum ceria yang dipaksakan yang dilempar ke saya tak dapat menyelimuti kepedihan hatinya. “Saya dimarahi, saya dimaki, bahkan juga saya ditantang berkelahi, ” terdengar gelora suaranya seolah gelombang dahsyat menghantam karang. Tetapi lalu, gelombang itu surut serta pada akhirnya hilang. “Sepanjang usia saya yang telah 35 th. ini, serta saya telah kerja 15 th., belum pernah saya dimaki seperti itu. Bahkan juga orangtua saya juga belum pernah berteriak sekasar itu, ” gerutunya sembari mukanya tertunduk lesu. Waktu itu ia seperti seseorang tentara yang telah kalah perang habis-habisan lantas jatuh terduduk kepayahan.
Pegawai lain nyatanya juga kerap dimarahi. Di belakang kantor, kita kerap berkumpul untuk sama-sama ganti narasi “pengalaman” dimarahi. Lantaran biasanya dimarahi, kami jadi agak kebal. Telinga-telinga kami seakan telah bikin tameng baja anti geram. Kami terima saja kemarahan itu sebagai “anjing menggonggong, serta kafilah selalu berlalu. ”
Situasi kerja jadi tegang. Rekan-rekan yang melayani orang-orang di loket juga tak ketertarikan bekerja. Deringan bel yang seolah dapat bikin jantung berhenti berdegup, yaitu nada yang sangat kami tidak suka. Lewat bel tersebut, pemimpin itu memanggil beberapa karyawannya. Rupanya, ia paham juga bila ia memperlakukan karyawannya seperti itu, maka dari itu ia lakukan usaha penyadapan. Dengan pesawat intercom yang ada di bebrapa sisi, di beberapa saat spesifik kerap dinyalakan hingga ia dapat mendengar pembicaraan karyawannya.
Kerap juga ia mendemonstrasikan ketrampilan menyadap perbincangan itu pada sebagian karyawannya. “Nah, anda saksikan sendiri. Apa sajakah yang dibicarakan oleh beberapa orang itu, saya tahu, ” katanya pada saya di satu hari. Tahu hal semacam itu, kami jadi begitu hati-hati dalam bicara. Kami terasa tembok-tembok kantor seolah jadi agen spionase yang siap melaporkan semua gerak gerik kami.
Hasil pada akhirnya, kita tak semangat dalam bekerja. Rasa-rasanya malas sekali melayani orang-orang. Mengakibatkan, kemampuan kantor itu tak menggembirakan.
Melihat pemimpin kami seperti itu, saya berjanji pada sendiri, bila saya kelak jadi pemimpin, saya akan tidak menirunya. Bahkan juga saya ingatkan diri saya, itu segi gelap dari seseorang pemimpin, jadi hati-hatilah...
Roda zaman selalu berputar, serta kami memperoleh pemimpin baru. Ia berusia 35 tahunan. Saat ia memperkenalkan diri, kami dengan skeptis menyikapi, “Paling ia bakal sama juga dengan si galak itu. ” Nyatanya pemimpin itu tak galak, ia ramah pada karyawan. Ia perduli pada semuanya karyawan.

0 comments:
Post a Comment