Kumpulan catatan tentang Motivasi Islami ,Motivasi Karier ,Motivasi Bisnis ,Motivasi Personality

Monday, April 12, 2010

Budaya Organisasi Transisi yang Harus Dikelola


"Tolong dik, di-print kan dahulu emailnya, ya, ” demikian perintah halus seseorang manajer wanita yang usianya mendekati 51 th.. Sesudah e-mail itu di-print, ia lalu membaca dengan cermat. Dahinya berkerut, matanya mentheleng, membaca dengan penuh perhatian.

Merenung sesaat, ia lalu mengambil kertas putih kosong, serta mengonsep jawaban. Kelihatannya ide tak mengalir dengan gampang. Ditenggaknya gelas besar diisi air putih. Diambilnya nafas panjang-panjang sembari matanya memandang dari kejauhan lewat jendela kaca di gedung lantai 4.
“Bagaimana ini, bila saya setujui, tentu itu jadikan preseden. Kelak, bila ada keinginan sama, saya tentu tak dapat menampik, ” keluhnya. Pada akhirnya sesudah melihat sepasang burung gereja yang beterbangan dengan penuh keceriaan, ia teruskan menulis.
“Tolong ini dirahasiakan ya, serta ketikkan saat ini. Sesudah saya check, tolong kelak emailnya di kirim ya? ”

Anda heran bukanlah, untuk kirim e-mail mesti dikonsep dahulu, lalu menyuruh orang lain untuk mengetik? Tersebut sebenarnya yang berlangsung di sekitaran kita. Berdasarkan penilaian saya, generasi yang saat ini berusia 50 th. ke atas, banyak tak memahami computer, terlebih internet.
Disamping itu, perusahaan mulai mengaplikasikan internet, intranet, usaha berbasiskan internet, e-business, e-leadership serta ada banyak arti baru yang lain. Terang tak gampang untuk sesuaikan dengan beberapa hal baru itu.
Namun tersebut tuntutan sekarang ini. Organisasi batas-batasnya semakin tak terang. Karyawan yang leha-leha di ruangannya, nyatanya sembari berkomunikasi dengan orang Taiwan. Atau, seseorang ibu-ibu berjilbab nyatanya tengah chatting dengan bule dari Italia. Nyatanya mereka bicara mengenai usaha, serta usaha itu ada kaitan erat dengan perusahaan itu.
Ini yaitu fenomena yang perlu diakui oleh pemimpin. Bila di saat lantas pemimpin yaitu orang yang serba tahu, atau hingga bagian “maha tahu” hingga kerap terasa benar sendiri, saat ini, karyawanlah yang lebih tahu semuanya.
Sekarang ini, mungkin saja tengah ada diskusi di newsgroup yang tengah mengulas kekurangan product kita, serta kita tak berbuat apapun untuk menghindar mereka menyerang kekurangan kita. Anda pasti tak dapat melarang mereka mengulas kekurangan perusahaan anda. Terlebih, apa yang termuat dalam newsgroup itu tersimpan serta dengan gampang diketemukan oleh pembaca yang lain.
Yang perlu anda kerjakan yaitu menyarankan karyawan untuk juga turut dalam diskusi-diskusi sejenis itu. Ia mesti dapat berlaku sebagai “ambassador” untuk perusahaannya. Ia mesti “membela” perusahaan dengan cerdik. Saat karyawan anda turut dalam diskusi itu, banyak hal di perusahaan anda, bakal tersingkap keluar. Saat info keluar dengan bebas, bermakna orang lain dapat juga membaca info itu. Perusahaan kita bahkan juga jadi “telanjang”.
Anda tak yakin, masuk saja ke Google, serta tulis, “Income Statement filetype : xls”. Di Google bakal nampak demikian banyak laporan rugi laba perusahaan, termasuk juga perusahaan yang belum go public.

Menakutkan, mengherankan? Ya, selamat datang di zaman e-culture. Zaman dimana jenis hirarki berbentuk command and control yang mendadak jadi usang. Karyawan saat ini bukanlah lagi cuma alat produksi. Merekalah asset yang paling penting. Modal intelektual, kreatifitas, insight, inovasi, cuma datang dari beberapa karyawan. Demikian anda mulai kerap menyakiti hati mereka, menyia-nyiakan upayanya, siap-siaplah anda tidak untung. Kenapa? Tidakkah mereka masihlah rajin masuk mengantor setiap hari? Ya, benar. Namun fikiran mereka tak ada di kantor. Bila di kantor ada sarana internet, mereka bakal “keluyuran” ke bebrapa website yang tak ada hubungannya dengan perusahaan anda. Bahkan juga mungkin saja mereka jadi tengah berkunjung ke situs kompetitor di tidak mungkin sediakan lowongan kerja…
Supaya anda tak ketinggalan dalam e-culture ini, anda baiknya juga memahami tehnologi ini. Idealnya, anda gunakan benar e-mail untuk menghidupkan semangat, untuk memberikan pujian pada atas prestasi kerja karyawan anda. Lantaran pujian anda tercatat, karyawan bakal dapat memerlihatkan hal semacam itu pada karyawan lain, atau bahkan juga pada istri atau suaminya. Ini terang menyebabkan kebanggaan.
Dari studinya, Kelloway serta kawan-kawannya di Saint Mary’s University, mempelajari apakah penerima e-mail dapat membedakan pesan yang berbentuk acuh tidak acuh, memberikan inspirasi, atau sebatas ancaman halus. Mereka temukan kalau penerima e-mail betul-betul dapat rasakan kondisi “between the line” dari pengirim. Bila pengirim e-mail menghormati, mereka dapat merasakannya. Bila acuh tidak acuh, mereka dapat juga mendeteksinya.

Ini berikan kita ide, baiknya kita waspada saat kirim e-mail. Dengan sifatnya yang demikian gampang, demikian instant, terkadang kita kirim e-mail tanpa ada memikir panjang. Mengakibatkan, kita kerap menyesal dikarenakan kurang hati-hati. Lihat ini, kelihatannya kita saat ini tak akan menertawakan ibu petinggi yang mengonsep jawaban e-mail lebih dahulu. Mungkin saja kritikan baginya yaitu, “Mbok diketik sendiri, kelak rahasianya ketahuan lho!


Budaya Organisasi Transisi yang Harus Dikelola Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

0 comments:

Post a Comment