Sang sopir, Rusmin, telah bersedia di belakang kemudi. Berwajah yang prasojo, tetapi memberikan keyakinan, cukup bikin kami semuanya mantap, perjalanan kami bakal menyenangkan
Diluar saya saksikan pohon-pohon bergoyangan seolah iri lihat keceriaan kami semuanya. Mesin bis dihidupkan, AC hidup, serta segera saja kesejukan semakin memberi dinginnya hawa pagi itu.
Bis mulai jalan. Bayang-bayang pohon mulai lari kecil menjauhi kami. Bis itu jalan pelan-pelan. Kami pak sopirnya sekian hati-hati. Sesudah demikian lama, bis masihlah jalan pelan, serta kami memikirkan, “Oh, bis ini butuh warming up, pemanasan dahulu, soalnya masihlah pagi, mungkin mesinnya masihlah dingin. ”
Bis selalu saja jalan pelan. Mendadak salah seseorang penumpang berteriak tak sabar, “Pak, kok pelan selalu, dapat satu tahun kita baru hingga ke pantai. Cepatan dikit dong, Pak. ” Teriakan orang itu kelihatannya mewakili hasrat kami semuanya. Kami mengharapkan pemanasan bis itu cukup, serta bis bakal selekasnya melaju kencang.
Namun bis tetaplah jalan pelan seperti kura-kura yang malas. Mendadak Joko, crew bis yang duduk di belakang, segera jalan ke depan serta bicara pada kami, “Maaf bebrapa ayah, agar saya saja yang menukar menyopir. Yakinlah, bebrapa ayah tak jengkel lantaran saya bakal menyopir dengan cepat... ”
Mendengar pengucapan Joko itu, beberapa penumpang lega. “Ya, mesti ditukar, masak nyopirnya seperti nenek-nenek yang jalan pelahan takut kesandung batu, ” kurang lebih sekianlah fikiran beberapa penumpang itu.
Mendadak wus, bis melaju kencang. Pohon-pohon serta beberapa tempat tinggal diluar bis kami seakan lari seperti kilat. Beberapa penumpang mulai bergembira. Bekal-bekal mulai di buka, serta beberapa penumpang mulai nikmati makanan mereka semasing. Lemper, keripik kentang, kacang goreng selekasnya mereka santap.
Mendadak penumpang dibagian depan berbisik pada rekan di sebelahnya, “Astaga, spedometer tunjukkan angka 93, bermakna bis ini sangatlah cepat. ” Beberapa penumpang lain juga rasakan hal yang sama, bis melaju demikian kencang. Bila semula penumpang menggerutu lantaran memperoleh sopir yang alon-alon waton kelakon, saat ini sopirnya demikian ngebut.
Saat dilirik muka sopir itu, ah, dia terlihat demikian bergembira. Beberapa penumpang itu jadi cemas, takut celaka, soalnya jalan raya di depan mulai ramai. Tetapi bis itu tak memperlambat lajunya, jadi semakin cepat. “Gila ini. Pir, sopir, perlambat dikit dong, dapat cepat ke neraka nih, ” terdengar teriakan seseorang gadis yg tidak tahan ada di bis yang ngebut itu. Beberapa penumpang lain juga berteriak supaya bis dipelankan.
Dengan sulit payah, pada akhirnya bis itu dapat berhenti. Berhentinya juga dengan mendadak hingga botol-botol, dus-dus bahkan juga sandal-sandal dibawah kursi turut terseret ke sisi depan bis.
Pada akhirnya sopir digantikan oleh crew yang lain, yakni Urip. “Nah, nyopir itu begini, jeli, enak, nglaras, tak seperti dikejar setan, ” sekian celetuk seseorang ibu sesudah “menikmati” sopiran Si Urip. Memanglah benar, sopir itu menyopir demikian jeli, terkadang cepat terkadang lambat sesuai dengan keadaan jalan raya di jalan raya itu. Kemelut yang tadi demikian menyesak di dada, pelan-pelan mencair. Makanan yang tadi pernah berhenti lantaran tegang, kembali di nikmati. Beberapa penumpang mulai memikirkan begitu enaknya kelak di pantai. Pantai yang berpasir putih lembut. Ombak yang besar tetapi ramah yang dapat merayu beberapa orang untuk mereguk kesenangan yang mendesir di kaki. Gadis-gadis bule yang berjemur serta berlarian di pantai, ah, semakin dipikirkan semakin indah. Bayangan-bayangan itu bermain di kepala, semakin lama semakin kabur, serta tanpa ada merasa beberapa penumpang banyak yang tertidur.
Mendadak bis berhenti mendadak. “Ada apa lagi ini, ” teriak seseorang penumpang yang geragapan bangun. Nyatanya bis itu barusan dihentikan oleh polisi jalan raya. Nyatanya ada rambu yang dilanggar. Ada sinyal bis tak bisa masuk, tetapi pak sopir yang cekatan itu nyatanya tak mengetahui rambu-rambu jalan raya. Mengakibatkan, bis itu dengan sangat terpaksa berhenti cukup lama lantaran ada banyak masalah pada sopir bis itu dengan polisi jalan raya.
Saat menanti sistem itu usai, saya pernah terlibat perbincangan dengan beberapa ex-sopir tadi. Nyatanya akhirnya mengagetkan : Rusmin sopir pertama tadi, nyatanya cuma dapat menyopir lambat-lambat saja, ia memanglah tak dapat menyopir cepat. Joko, yaitu sopir spesialis cepat, ngebut, tetapi ia tak dapat menyopir pelan. Urip, yaitu sopir hebat, tetapi ia buta rambu jalan raya. Mengakibatkan, perjalanan piknik terganggu, serta kondisinya jadi tak nyaman.

0 comments:
Post a Comment