Kita mengetahui Imam Ibnu Hazm al Andalusi (384-456H) sebagai sosok ulama besar dari Andalusia, beliau termasuk juga seseorang mujtahid tersoroh, di tangan beliau Mazhab Azh-Zhahiry kembali berkembang. Menilik lembaran histori, ada cerita menarik yang mendorong Imam Ibnu Hazm untuk pelajari pengetahuan fiqih :
Satu saat beliau melihat jenazah yang bakal dishalatkan, lantas beliau masuk ke mesjid serta segera duduk tanpa ada shalat tahiyyatul masjid terlebih dulu. Mendadak seseorang lelaki yang ada di sebelahnya berkata : “Berdirilah, serta kerjakan shalat tahiyyatul masjid! ”
Umur beliau saat itu telah mencapai usia 26 th..
Beliau bercerita : “Lalu saya bangkit serta lakukan shalat dua rakaat.
Sesudah kami usai menguburkan jenazah, saya kembali pada ke mesjid serta saya segera kerjakan shalat tahiyyatul masjid. Lihat apa yang saya kerjakan, orang yang tadi menyuruhku kerjakan shalat berkata : “Duduklah, saat ini bukanlah waktunya untuk shalat”. Lantaran saat itu usai shalat ‘Ashar.
Memperoleh hal semacam itu saya pergi dalam kondisi begitu sedih. Saya segera menjumpai guru yang umum mendidikku, agar ia tunjukkan kepadaku tempat tinggal pakar fiqh Abu Abdillah ibnu Dahun. Sesudah saya memperolehnya, saya segera menuju ke alamatnya serta saya memberitahu beliau mengenai perkara yang telah berlaku pada diriku.
Untuk pertama kalinya, beliau menganjurkanku untuk pelajari kitab Muwatta’ terlebih dulu. Jadi awalilah saya membacakannya atas tuntunan beliau, yang berlanjut dengan bacaan-bacaan selanjutnya. Sesudah berjalan tiga th. saya mulai berdiskusi serta berdebat”.
Pada akhirnya beliau jadi salah seseorang ulama paling besar dalam histori, sebagai pendiri ke-2 mazhab Azh-Zhahiry.
Kadang-kadang momen remeh dapat jadi penyebab kebangkitan seorang. Momen yang dapat jadikan potensinya melejit setinggi langit.
Apakah tak ada perkara yang kita hadapi hingga kita butuh belajar serius seperti Imam Ibnu Hazm?
0 comments:
Post a Comment